🌙 Di Antara Tawaf dan Rindu
“Aku kira yang paling membuatku menangis di Tanah Suci adalah saat pertama melihat Ka’bah. Ternyata bukan. Justru yang paling menghancurkan hati adalah ketika aku sadar Allah tetap memanggilku, meski aku masih penuh kekurangan.”
Tahun 2024 adalah pertama kalinya aku benar-benar mengucapkan keinginanku untuk berangkat umroh.
Masih terdengar sederhana, tapi entah kenapa hari itu terasa begitu berbeda.
“Kayaknya aku mau berangkat umroh deh, Bu…”
Aku mengucapkannya pelan sambil menemani ibu dirawat di RS Bhayangkara, November 2024.
Ibu tersenyum hangat seperti biasa.
“Iya… ibu doakan semoga Olil bisa berangkat ya nanti. Doain juga semoga ibu cepat sembuh dan sehat.”
Sesederhana itu obrolannya. Tapi sekarang aku sadar, mungkin saat itu Allah sudah mulai menulis perjalanan ini.
Setelahnya, semangat itu sempat naik turun. Ada rasa ragu, takut, merasa belum pantas, belum siap, belum cukup baik untuk menjadi tamu Allah.
Sampai akhirnya, November 2025 aku benar-benar berangkat. Dan baru kusadari, waktunya tepat satu tahun dari percakapan kecil bersama ibu di rumah sakit dulu. Seolah Allah ingin menunjukkan bahwa tidak ada doa yang benar-benar hilang.
Perjalanan umroh tentu bukan perjalanan yang singkat. Ada rasa lelah, ada rasa rindu rumah, ada tubuh yang harus terus kuat mengikuti rangkaian ibadah.
Namun di balik semua itu, ada begitu banyak ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Tapi ternyata, bagian yang paling berat bagiku adalah meninggalkan anak kecilku, Zahrana Shanum Fauza, selama lebih dari dua minggu.
Aku selalu terlihat tenang di depan orang-orang. Padahal setiap malam aku menghitung waktu untuk bisa video call dengannya. Sampai suatu hari, ada momen yang benar-benar membuat hatiku runtuh. Saat video call, tanpa sadar Shanum tiba-tiba berlari membawa handphone keluar rumah. Dia terlihat bingung. Karena di layar, tempatku masih sore.Sedangkan di rumah sudah malam.
Dia mungkin sedang berusaha memastikan kenapa langit yang dilihat mamah dan langit yang dia lihat berbeda.
Ada jeda waktu beberapa jam di antara kami. Tapi rasanya seperti ada jarak yang jauh sekali saat itu. Dan di momen kecil itulah aku menangis. Bukan karena perjalanan yang panjang. Bukan juga karena jauhnya jarak.
Tapi karena untuk pertama kalinya aku sadar…
menjadi tamu Allah juga berarti belajar ikhlas meninggalkan orang-orang yang paling kita cintai sementara waktu.
Katanya, ketika kita ke rumah Allah, kita akan menemukan banyak keajaiban.
Termasuk dipertemukan dengan orang-orang yang paling kita rindukan.
Aku percaya itu. Makanya selama di Tanah Suci, di sela tawaf, di antara langkah sa’i, di setiap doa yang kupanjatkan diam-diam aku selalu mencari. Dan ternyata, ada dua nama yang terus hidup di setiap langkahku.
Shanum… dan Ibu.
Shanum adalah rumah yang paling kurindukan untuk pulang.
Sedangkan ibu… adalah rindu yang tak lagi punya tempat untuk kembali.
Iya… ibuku yang ternyata sudah lebih dulu pulang.
Sudah lebih dulu berada di sisi Allah SWT. Dan mungkin karena itulah, setiap melihat perempuan seusia beliau berjalan pelan menuju masjid, setiap mendengar doa-doa lembut dari para ibu di Masjid Nabawi, dadaku selalu sesak.
Aku seperti terus mencari wajah ibu di tengah jutaan manusia di Tanah Suci.
Padahal aku tahu…
aku tak akan menemukannya di sana.
Ada satu momen ketika aku duduk cukup lama memandangi Ka’bah.
Orang-orang sibuk berdoa dengan tangis masing-masing. Dan tiba-tiba aku sadar…
Dulu, saat pertama kali bilang ingin umroh di rumah sakit itu, ibu masih ada.
Ibu masih tersenyum sambil bilang:
“Iya… ibu doakan semoga Olil bisa berangkat.”
Tapi saat Allah benar-benar mengabulkan doa itu…Ibu sudah tidak ada di dunia.
Rasanya aneh sekali.
Antara bahagia karena akhirnya sampai di rumah Allah, dan hancur karena orang yang paling ingin aku bahagiakan dengan kabar itu justru sudah pergi.
Di depan Ka’bah, aku meminta banyak hal dan Aku berkata pelan dalam hati:
“Ya Allah… tolong jaga Shanum sebaik Engkau menjagaku di sini.
Dan kalau ibu tidak bisa kupeluk lagi di dunia, izinkan semua doa anaknya sampai kepadanya.”
Dan sejak saat itu aku mengerti,
Mungkin sebagian perjalanan menuju Allah memang tentang kehilangan.
Tentang belajar ikhlas bahwa tidak semua orang yang kita cintai bisa menemani sampai tujuan.
Tapi doa selalu bisa sampai kepada mereka. 🥀🤍

Komentar
Posting Komentar